TINGKAT PEMANFAATAN  PERPUSTAKAAN SEKOLAH DI SD INPRES AJAKKANG BARAT KABUPATEN BARRU

Tingkat Pemanfaatan Perpustakaan Sekolah di SD Inpres Ajakkang Barat Kabupaten Barru
ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pemanfaatan perpustakaan di SD Inpres Ajakkang Barat, kabupaten Barru. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Populasi adalah semua siswa, guru dan pegawai yaitu sebanyak 128 orang. Sampelnya sebanyak 21 orang dengan menggunakan teknik penarikan sampel acak (random sampling). Teknik pengumpulan data yaitu data primer adalah pengumpulan data melalui wawancara langsung dengan menggunakan daftar pertanyaan, dan data sekunder adalah melalui kajian pustaka dan dokumen-dokumen yang berkaitan dengan topic penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada umumnya siswa dan guru memberikan yang tinggi atau baik, dan bahkan banyak juga yang memberikan tanggapan bahwa pemanfaatan perpustakaan sekolah oleh siswa di antaranya adalah mencari informasi dari buku referensi atau buku-buku yang relevan, melatih kemampuan belajar mandiri, sebagai sarana belajar kelompok dan untuk mengisi waktu luang atau pada saat jam kosong, berdasarkan hasil penelitian pemanfaatan perpustakaan sekolah untuk mencari informasi dari buku referensi atau buku-buku yang relevan, termasuk dalam kategori tinggi, hal ini dapat di tunjukkan dengan adanya kelengkapan buku-buku yang ada di perpustakaan yang sudah memadai dan relevan sehingga banyak siswa yang mencari informasi guna menyelesaikan tugas yang berkaitan dengan materi pelajaran yang ada di sekolah sehingga dapat meningkatkan hasil belajar siswa.

Kata Kunci: Perpustakaan Sekolah, Tingkat Pemanfaatan

PENDAHULUAN

Keberadaan perpustakaan sekolah sangat penting, maka pemerintah pada tahun 1989 mengeluarkan ketentuan undang-undang sistem pendidikan nasional yang di dalamnya dinyatakan bahwa setiap sekolah wajib memiliki perpustakaan. Eksistensi perpustakaan tetap dipertahankan walaupun banyak hambatan atau kendala yang dihadapi dalam proses penyelenggaraannya. Karena perpustakaan di dalam masyarakat mempunyai fungsi yang berkaitan langsung dengan kebutuhan masyarakat.
Perpustakaan sekolah sebagai sarana pendidikan yang amat penting harus diselenggarakan secara efektif dan efisien. Lebih-lebih jika kita lihat perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sekarang ini sedemikian pesatnya, maka peranan perpustakaan sebagai sumber informasi sangat kuat dan mutlak diperlukan di sekolah-sekolah. Sedemikian pentingnya perpustakaan, sehingga diibaratkan sebagai jantung pendidikan yang memiliki kemampuan dan kekuatan yang langsung mempengaruhi hasil pendidikan.


Pendidikan tidak mungkin terselenggara dengan baik bilamana para tenaga kependidikan maupun peserta didik tidak didukung oleh sumber belajar yang diperlukan untuk penyelenggaraan kegitan belajar mengajar yang bersangkutan. Salah satu sumber belajar yang amat penting bukan satu-satunya adalah perpustakaan yang harus memungkinkan tenaga kependidikan dan peserta didik memperoleh kesempatan untuk memperluas dan memperdalam ilmu pengetahuan yang diperlukan dalam melaksanakan proses belajar mengajar sebagai salah satu tujuan perpustakaan sekolah didirikan.


Tujuan diselenggarakannya perpustakaan sekolah adalah: 

(a) meningkatkan kemampuan berpikir dan menanamkan kebiasaan belajar sendiri sesuai dengan bakat dan perkembangannya, 
(b) menanamkan pengetahuan yang terpadu dan bukan mengajarkan mata pelajaran secara berkotak-kotak, dan 
(c) memupuk saling pengertian antar anak didik dan kebiasaan menghargai prestasi keilmuan yang diperoleh seseorang dari kegiatan mencari sendiri keilmuan melalui membaca buku, Soeatminah dalam Suryosubroto(2009: 229-230). 

Sejalan dengan hal tersebut Nurhadi dalam Suryosubroto (2009: 230) mengemukakan fungsi pokok perpustakaan sekolah yaitu: fungsi pokok perpustakaan sekolah adalah memberikan pelayanan informasi untuk menunjang program belajar dan mengajar di sekolah baik dalam usaha pedalaman dan penghayatan pengetahuan, penguasaan keterampilan maupun penyerapan dan pengembangan nilai dan sikap hidup siswa.


Berdasarkan pendapat dan teori diatas dapat dinyatakan bahwa, pemanfaatan perpustakaan sekolah merupakan suatu proses, perbuatan, usaha atau upaya memanfaatkan perpustakaan sekolah secara optimal guna menunjang proses belajar mengajar agar lebih efektif dan maksimal sehingga dapat membantu tercapainya tujuan pendidikan yang diselenggarakan oleh sekolah.


Melihat keadaan siswa dan guru yang ada di SD Inpres Ajakkan Barat, kabupaten Barru di mana siswa dan guru sudah memahami dan memanfaatkan perpustakaan sekolah sebagai sarana atau sumber belajar mengajar, perpustakaan sebagai sumber informasi, karena di perpustakaan guru dan siswa dapat mencari berbagai ilmu dan pengetahuan yang diperlukan, baik untuk kebutuhan kini maupun untuk yang akan datang. Perpustakaan di mana saja berada dapat turut berperan dalam rangka meningkatkan minat baca diharapkan masyarakat Indonesia makin cerdas dan terampil dalam mengantisipasi tantangan jaman, serta mengerjakan tugas-tugas sekolah yang diberikan oleh guru dapat dikerjakan melalui bahan pustaka yang ada di perpustakaan. 


Sesuai statistik yang ada di perpustakaan SD Inpres Ajakkang Barat, kabupaten Barru bahwa setiap bulannya jumlah pengunjung sebanyak 80 orang dari jumlah siswa sebanyak 93 orang, guru dan pegawai 15 orang. Dengan demikian data statistic tersebut menunjukkan bahwa perpustakaan yang ada di SD Inpres Ajakkang Barat sudah dimanfaatkan secara optimal oleh siswa, guru dan pegawai lainnya dan perpustakaan tersebut dijadikan sebagai sumber atau sarana pembelajaran yang mendukung dalam proses belajar mengajar di kelas.


Berdasarkan fenomena tersebut di atas, maka penulis tertarik melakukan suatu penelitian dengan judul: “Tingkat Pemanfaatan Perpustakaan Sekolah di SD Inpres Ajakkang Barat, kabupaten Barru”. Adapun permasalahan dalam penelitian ini adalah bagaimana tingkat pemanfaatan perpustakaan sekolah di SD Inpres Ajakkang Barat, kabupaten Barru. Tujuannya adalah untuk mengetahui tingkat pemanfaatan perpustakaan sekolah di SD Inpres Ajakkang Barat, kabupaten Barru.


METODE PENELITIAN

Dalam melakukan penelitian ini penulis menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif yang bertujuan untuk mengetahui gambaran tentang tingkat pemanfaatan perpustakaan sekolah di SD Inpres Ajakkang Barat, kabupaten Barru. Populasi dalam penelitian ini adalah semua siswa dan guru serta pegawai di SD Inpres Ajakkang Barat, kabupaten Barru sebanyak 118 orang. Pemilihan sampel dilakukan dengan menggunakan metode random sampling (sampel acak) dengan undian. Jika jumlah populasinya lebih dari 100 orang, maka sampel diambil sebesar 10%, 15%, dan 20% atau lebih (Arikanto, 2005). Berdasarkan pendapat tersebut yang menjadi sampel penelitian ini adalah 20% dari jumlah populasi yang ada di SD Inpres Ajakkang Barat, kabupaten Barru, maka sampel penelitian ini sebanyak 21 orang. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah: 1) data primer, yakni teknik pengumpulan data melalui wawancara dan observasi secara langsung hal yang terjadi di lapangan. Menurut Sugiono (2009:125) mengatakan bahwa tahapan analisis data kualitatif terdiri dari tahapan penjelajahan yakni memilih situasi sosial, serta wawancara kepada informan dengan menggunakan daftar pertanyaan; 2) data sekunder, yakni teknik pengumpulan data dengan mengumpulkan sumber-sumber informasi ilmiah yang berkaitan dengan materi penelitian berupa buku-buku, karya ilmiah, dan berbagai literatur lainnya sebagai bahan referensi penulis.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan penulis, dapat memberikan gambaran tentang tingkat pemanfaatan perpustakaan sekolah di SD Inpres Ajakkang Barat, kabupaten Barru menggunakan beberapa indikator sebagai berikut: 
(a) pemahaman tentang manfaat perpustakaan sekolah; 
(b) pemanfaatan perpustakaan untuk mencari informasi dari buku yang relevan; 
(c) pemanfaatan perpustakaan untuk melatih kemampuan belajar mandiri; 
(d) pemanfaatan perpustakaan untuk mengisi waktu luang pada jam istirahat; 
(e) pemanfaatan perpustakaan sebagai sarana kelompok belajar, serta dapat diukur dengan melalui pernyataan seperti sangat paham/sangat tinggi, paham/tinggi, kurang paham/sedang, dan tidak paham/rendah.

Indikator pertama, pemahanan tentang manfaat perpustkaaan sekolah, adalah perpustakaan sekolah dapat menimbulkan kecintaan siswa terhadap membaca, memperkaya pengalaman belajar siswa, menanamkan kebiasaan belajar mandiri yang akhirnya siswa dapat belajar dengan mandiri, mempercepat proses penguasaan teknik membaca, membantu perkembangan kecakapan berbahasa, melatih siswa untuk bertanggung jawab, memperlancar siswa dalam menyelesaikan tugas-tugas sekolah, membantu guru-guru menemukan sumber-sumber pengajaran,  membentuk siswa, guru-guru dan staf sekolah dalam mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. (Ibrahim Bafadal (2009 : 5)


 Berdasarkan data hasil wawancara (kuesioner) dan observasi yang peneliti dapatkan di lapangan tentang tingkat pemanfaatan perpustakaan sekolah di SD Inpres Ajakkang Barat, kabupaten Barru berupa pemahaman tentang manfaat perpustakaan sekolah dapat di lihat pada tabel sebagai berikut:
Tabel. 1. Distribusi Frekuensi Pemahaman Manfaat Perpustakaan Sekolah
Kategori    Frekuensi    Porsentase (%)
Sangat paham    6    28,6
Paham    10    47,6
Kurang paham    3    14,3
Tidak paham    2    9,5
Jumlah    21    100
Data: diolah sendiri, 2016


Berdasarkan tabel di atas menunjukkan bahwa tanggapan responden terhadap tingkat pemanfaatan perpustakaan sekolah di SD Inpres Ajakkang Barat, kabupaten Barru berupa pemahaman manfaat perpustakaan sekolah, dari 21 siswa dan guru sebagai responden terdapat 6 siswa dan guru atau 28,6% kategori sangat paham, 10 siswa dan guru atau 47,6% kategori paham, dan 3 atau 14,3% siswa dan guru kategori kurang paham dan 2 siswa dan guru atau 9,5% kategori tidak paham. Hal ini berarti bahwa tingkat pemanfaatan perpustakaan sekolah bagi siswa dan guru di SD Inpres Ajakkang, kabupaten Barru berupa pemahaman tentang manfaat perpustakaan sekolah yang paling banyak adalah kategori paham yaitu sebesar 10 atau 47,6%, namun pada kategori kurang paham dan tidak paham masih ada. Dari hasil data tersebut dapat disimpulkan bahwa pemahaman siswa dan guru terhadap manfaat keberadaan perpustakaan sekolah di SD Inpres Ajakkang Barat, kabupaten Barru termasuk kategori paham.


Adanya kehadiran perpustakaan di sekolah beserta koleksinya diharapkan mampu meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Khususnya melalui penambahan pengetahuan bagi guru dan siswa yang ada di sekolah tersebut. Beberapa manfaat dari keberadaan perpustakaan sekolah adalah  merangsang minat membaca baik pada guru dan siswa. Karena membaca adalah sumber pengetahuan yang paling besar. Dari membaca, seseorang bisa mendapatkan informasi yang barangkali belum pernah dilihat atau didengarnya secara lengkap dan akurat.


Perpustakaan sebagai sumber literatur yang paling dekat. Koleksi buku di perpustakaan adalah salah satu sumber bagi guru dan siswa untuk memperoleh literatur yang sesuai dengan materi pelajaran yang sedang dipelajari. Perpustakaan sebagai pusat informasi. Untuk mendapatkan informasi terkini, salah satu tempat di sekolah yang bisa dituju adalah perpustakaan. Dalam perpustakaan biasanya dilengkapi dengan media massa yang terbit setiap hari sebagai media penyampai berita teraktual.
Sumber pembelajaran menulis. Membaca koleksi perpustakaan, bisa menjadi bahan referensi apabila hendak menulis sebuah karya ilmiah, baik itu yang termasuk karya ilmiah murni atau juga karya ilmiah populer. Penulisan sebuah karya ilmiah memang harus didasarkan pada sumber literatur yang sudah ada sebelumnya. Perpustakaan bisa dijadikan rujukan untuk mencari literatur yang dibutuhkan.
Perpustakaan sekolah tampak bermanfaat apabila benar-benar memperlancar pencapaian tujuan proses belajar mengajar di sekolah. Indikasi manfaat tersebut tidak hanya berupa tingginya prestasi murid-murid, tetapi lebih jauh lagi, antar lain adalah murid-murid mampu mencari, menemukan, menyaring dan menilai informasi, murid-murid terbiasa belajar mandiri, murid-murid terlatih ke arah tanggung jawab, murid-murid selalu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, dan sebagainya.  


Indikator kedua, pemanfaatan perpustakaan untuk mencari informasi dari buku yang relevan adalah perpustakaan sebagai pusat informasi dan menyediakan berbagai jenis koleksi berdasarkan kebutuhan pemakainya. Koleksi perpustakaan sekolah adalah koleksi yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik dan pendidik dan dapat mendukung proses belajar mengajar di sekolah.
Berdasarkan data hasil wawancara (kuesioner) dan observasi yang peneliti dapatkan di lapangan tentang tingkat pemanfaatan perpustakaan sekolah di SD Inpres Ajakkang, kabupaten Barru berupa untuk mencari informasi dari koleksi yang relevan dapat di lihat pada tabel sebagai berikut:
Tabel. 2. Distribusi Frekuensi Pemanfaatan Perpustakaan Sekolah Untuk
               Mencari Informasi dari Koleksi yang Relevan
Kategori    Frekuensi    Porsentase (%)
Sangat Tinggi    9    42,9
Tinggi    8    38,1
Sedang    4    19,0
Rendah    0    0
Jumlah    21    100
Data: diolah sendiri, 2016
Berdasarkan tabel di atas menunjukkan bahwa tanggapan responden terhadap tingkat pemanfaatan perpustakaan sekolah untuk mencari koleksi yang relevan di SD Inpres Ajakkang Barat, kabupaten barru, dari 21 siswa dan guru sebagai responden terdapat 9 atau 42,9% kategori sangat tinggi, 8 atau 38,1% kriteria tinggi, dan 4 atau 19% kategori sedang dan tidak ada kriteria rendah. Hal ini berarti bahwa tingkat pemanfaatan perpustakaan sekolah untuk mencari koleksi yang relevan bagi siswa dan guru di SD Inpres Ajakkang, kabupaten Barru sudah termasuk kategori sangat tinggi yaitu sebanyak 9 atau 42,9%. Dari hasil data tersebut dapat disimpulkan bahwa tingkat pemanfaatan perpustakaan untuk mencari koleksi yang relevan di SD Inpres Ajakkang Barat, kabupaten Barru termasuk kategori sangat tinggi. Dengan demikian bahwa pemanfaatan perpustakaan sekolah untuk mencari koleksi yang relevan sudah sangat di manfaatkan oleh siswa dan guru. Hal ini dapat dilihat banyaknya buku-buku yang terpinjam, kunjungan ke perpustakaaan siswa semakin meningkat, minat baca siswa di perpustakaan semakin meningkat pula.


Perpustakaan sekolah dalam proses belajar mengajar sangat tergantung pada kemampuan perpustakaan dalam menjalankan fungsinya serta adanya usaha siswa untuk mencari dan memperoleh informasi melalui perpustakaan karena di sinilah adanya hubungan timbal balik antara siswa dan perpustakaan tersebut yaitu siswa mempunyai kebutuhan dalam memperoleh informasi dan informasi itu dapat diperoleh dan dipenuhi oleh perpustakaan,  selain itu perlunya perhatian sekolah  untuk memberdayakan perpustakaan perpustakaan sekolah dengan segala penunjang yang dibutuhkan, serta kerja sama dengan guru untuk memotivasi siswa menggunakan perpustakaan sekolah sebagai sumber belajar, baik dengan memberikan tugas terstuktur yang datanya di dapat dari buku referensi yang ada di perpustakaan, maupun dengan menggunakan pelajaran Bahasa Indonesia  dengan kegiatan kunjungan perpustakaan, akan membuat anak menjadi terampil membaca dan menuliskan sinopsis sederhana dari buku yang dibacanya,   Dengan demikian akan menumbuhkan minat baca siswa sehingga mereka dapat bekerja menjadi individu yang gemar menggali informasi dari buku sebagai jendela dunia.


Dengan adanya perpustakaan yang efektif, yaitu perpustakaan yang mempunyai koleksi bahan pustaka yang memadai bagi siswa untuk mencari informasi yang relevan, yang sesuai dengan kurikulum sekolah dan  bacaan yang sesuai dengan selera para pembaca yaitu para siswa yang ada di sekolah tersebut.  Sesuai dengan UU Perpustakaan No 43 Tahun 2007 menjelaskan bahwa koleksi perpustakaan diseleksi, diolah, disimpan, dilayankan,  dan dikembangkan sesuai dengan kepentingan pemustaka dengan memperhatikan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, selain koleksi yang harus diperhatikan adalah suasana perpustakaan yang menarik perhatian siswa, nyaman, mempunyai tempat yang cukup untuk siswa dalam membaca, menulis dan jika memungkinkan ada juga fasilitas komputer. Perpustakaan juga harus berada pada lokasi yang tenang dan jauh dari kebisingan. Luas ruang perpustakaan juga harus memadai dengan penerangan yang bagus, tempat duduk yang nyaman untuk membaca. Buku – buku hendaknya tersusun dengan rapi  dan terpajang di rak buku. Untuk itu diperlukan pustakawan yang benar– benar seseorang yang memiliki latar belakang pendidikan ilmu perpustakaan atau pernah mengikuti pelatihan dalam perpustakaan. Pustakawan mempunyai hak otonom dalam hal mengatur, mengolah koleksi cetak dan elektronik.  Pustakawan juga harus bersikap ramah dan luwes dalam memberikan pelayanan kepada pembaca dan memberikan informasi berkaitan dengan koleksi perpustakaan dengan pelayanan yang baik itu maka siswa pun akan merasa senang dan rajin untuk mengunjungi perpustakaan tersebut dengan demikian minat baca pada siswapun menjadi meningkat. Sehingga perpustakaan juga bisa berfungsi sebagai perlengkapan pendidikan yang memiliki kemampuan dalam menjebatani proses transfer ilmu pengetahuan kepada siswa.
Indikator ke tiga, pemanfaatan perpustakaan untuk melatih kemampuan belajar mandiri adalah perpustakaan merupakan tempat untuk meningkatkan minat baca, mencari informasi ilmu pengetahuan, tempat untuk menambah dan memperkaya ilmu pengetahuan dengan belajar mandiri.
Berdasarkan data hasil wawancara (kuesioner) dan observasi yang peneliti dapatkan di lapangan tentang tingkat pemanfaatan perpustakaan sekolah di SD Inpres Ajakkang, kabupaten Barru berupa untuk melatih kemampuan belajar mandiri dapat di lihat pada tabel sebagai berikut:
Tabel. 2. Distribusi Frekuensi Pemanfaatan Perpustakaan Sekolah Untuk
               Melatih Kemampuan Belajar Mandiri.
Kategori    Frekuensi    Porsentase (%)
Sangat Tinggi    4    19
Tinggi    11    52,4
Sedang    2    5,5
Rendah    4    19
Jumlah    21    100
Data: diolah sendiri, 2016
Berdasarkan tabel di atas menunjukkan bahwa tanggapan responden terhadap tingkat pemanfaatan perpustakaan sekolah untuk melatih kemampuan belajar mandiri di SD Inpres Ajakkang Barat, kabupaten Barru, dari 21 siswa dan guru sebagai responden terdapat 4 atau 19% kategori sangat tinggi, 11 atau 52,4% kategori tinggi, dan 2 atau 5,5% kategori sedang dan 4 siswa dan guru atau 19% kategori rendah. Hal ini berarti bahwa tingkat pemanfaatan perpustakaan sekolah untuk melatih belajar mandiri bagi siswa dan guru di SD Inpres Ajakkang Barat, kabupaten Barru sudah termasuk kategori tinggi yaitu sebesar 11 atau 52,4%, namun pada kategori  rendah masih tinggi yaitu sebesar 4 atau 19%. Dari hasil data tersebut dapat disimpulkan pemanfaatan perpustakaan sekolah untuk melatih kemampuan belajar mandiri tergolong tinggi, hal tersebut dapat ditunjukkan bahwa banyaknya waktu luang yang diberikan oleh guru untuk memanfaatkan perpustakaan untuk belajar mandiri bukan pada saat jam istirahat saja, akan tetapi guru terkadang guru memberi tugas kepada siswa mencari buku-buku untuk mengerjakan atau menyelesaikan di perpustakaan. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa masih ada siswa yang belum memanfaatkan perpustakaan sekolah untuk belajar mandiri. Hal ini dapat dilihat dari hasil penelitian masih ada pendapat siswa termasuk kategori rendah.


Perpustakaan sekolah adalah sebuah gedung atau ruangan yang mengkoleksi berbagai informasi untuk dijadikan sebagai sumber belajar siswa. Dalam proses belajar akan diperoleh hasil belajar, meskipun tujuan pembelajaran telah dirumuskan secara jelas dan baik belum tentu hasil yang diperoleh akan maksimal. Menurut Slameto (1991 : 60) faktor yang mempengaruhi proses belajar berada pada setiap individu, meliputi keadaan fisik dan pisikis atau mental yang dikategorikan dalam faktor internal dan eksternal. Faktor internal yang mempengaruhi proses belajar meliputi motivasi, kecerdasan, bakat dan kematangan dalam pertumbuhan. Sedangkan faktor eksternal meliputi keluarga, status ekonomi, pengajar, metode pengajaran dan sarana belajar.


Perpustakaan sekolah merupakan satu unit kerja yang berada di lingkungan sekolah yang memiliki peran yang sangat penting yaitu, sebagai penyedia sumber informasi yang menunjang keberhasilan proses belajar mengajar di suatu sekolah, sebagai sarana memperkenalkan perpustakaan yang sekaligus juga menciptakan citra perpustakaan pada para siswa, sebagai sarana dalam menciptakan masyarakat yang memiliki literasi informasi, sebagai sarana belajar yang memiliki nilai ekonomis karena bisa mengatasi kendala keterbatasan kepemilikan buku dari para siswa yang orang tuanya memiliki keterbatasan. 


Dengan demikian perpustakaan sekolah merupakan salah satu faktor eksternal yang mempengaruhi proses belajar dan lembaga yang diadakan untuk menunjang kelancaran tugas para warga lembaga yang bersangkutan, tidak untuk dikonsumsi umum. Perpustakaan sekolah merupakan salah satu sarana belajar yang menyediakan sumber informasi yang dibutuhkan dalam proses belajar siswa. Koleksi perpustakaan sekolah berfungsi sebagai komponen input yang menghasilkan proses transformasi ilmu dalam proses belajar. 


Indikator keempat pemanfaatan perpustakaan untuk mengisi waktu luang pada jam istirahat adalah siswa dan guru dalam mengisi waktu jam istirahat dapat menggunakan perpustakaan untuk menambah ilmu pengetahuan dengan membaca koleksi yang ada di perpustakaan.


Berdasrkan data hasil wawancara (kuesioner) dan observasi yang peneliti dapatkan di lapangan tentang tingkat pemanfaatan perpustakaan sekolah di SD Inpres Ajakkang, kabupaten Barru berupa untuk mengisi waktu luang pada jam istirahat adalah siswa dan guru dalam mengisi waktu jam istirahat dapat di lihat pada tabel sebagai berikut:


Tabel. 2. Distribusi Frekuensi Pemanfaatan Perpustakaan Sekolah Untuk Mengisi
              Waktu Luang pada Jam Istirahat.
Kategori    Frekuensi    Porsentase (%0
Sangat Tinggi    10    47,6
Tinggi    7    33,3
Sedang    3    14,3
Rendah    1    4,8
Jumlah    21    100
Data: diolah sendiri, 2016
Berdasarkan tabel di atas menunjukkan bahwa tanggapan responden terhadap tingkat pemanfaatan perpustakaan sekolah untuk mengisi waktu luang pada jam istirahat di SD Inpres Ajakkang Barat, kabupaten Barru, dari 21 siswa dan guru sebagai responden terdapat 10 atau 47,6% kategori sangat tinggi, 7 atau 33,3% kategori tinggi, dan 3 atau 14,3% kategori sedang dan 1 atau 4,8% kategori rendah. Hal ini berarti bahwa tingkat pemanfaatan perpustakaan sekolah untuk mengisi waktu luang pada jam istirahat di SD Inpres Ajakkang Barat, kabupaten Barru bagi siswa dan guru termasuk kategori tinggi yaitu sebesar 10 atau 47,6%.  Dari hasil data tersebut menunjukkan bahwa tingkat pemanfaata perpustakaan di sekolah untuk mengisi waktu luang pada jam istirahat di SD Inpres Ajakkang Barat, kabupaten Barru termasuk kategori tinggi. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa siswa dan guru memanfaatkan waktu luang pada jam istirahat untuk datang berkunjung ke perpustakaan, baik membaca maupun meminjam buku. Hal ini dapat dilihat dari hasil pengamatan peneliti di lapangan bahwa siswa lebih banyak memilih ke perpustakaan dari pada ngobrol atau bermain pada saat jam istirahat.


Indikator kelima, tingkat pemanfaatan perpustakaan sebagai sarana kelompok belajar adalah perpustakaan sekolah tidak hanya sebagai penyedia bacaan siswa di kala senggang, perpustakaan dapat juga digunakan sebagai sarana peningkatan wawasan dan pengetahuan, meningkatkan minat dan kebiasaan membaca siswa, sarana pencarian pengetahuan atau informasi dan perpustakaan pun dapat digunakan sebagai tempat diskusi, ajang bertukar pikiran antara kelompok belajar.
Berdasrkan data hasil wawancara (kuesioner) dan observasi yang peneliti dapatkan di lapangan tentang tingkat pemanfaatan perpustakaan sekolah di SD Inpres Ajakkang, kabupaten Barru berupa untuk sebagai sarana kelompok belajar dapat di lihat pada tabel sebagai berikut:
Tabel. 5. Distribusi Frekuensi Pemanfaatan Perpustakaan Sekolah sebagai Sarana
               Kelompok Belajar.
Kategori    Frekuensi    Porsentase (%)
Sangat Tinggi    6    28,6
Tinggi    12    57,1
Sedang    3    14,3
Rendah    0    0
Jumlah    21    100
Data: diolah sendiri, 2016
 

Berdasarkan tabel di atas menunjukkan bahwa tanggapan responden terhadap tingkat pemanfaatan perpustakaan sekolah sebagai sarana kelompok belajar di SD Inpres Ajakkang Barat, kabupaten Barru, dari 21 siswa dan guru sebagai responden terdapat 6  atau 28,6% kategori sangat tinggi, 12 atau 57,1% kategori tinggi, dan 3 atau 14,3% kategori sedang dan tidak ada tanggapan responden yang kategori rendah. Hal ini berarti bahwa tingkat pemanfaatan perpustakaan sekolah sebagai sarana kelompok belajar di SD Inpres Ajakkang Barat, kabupaten Barru bagi siswa dan guru sudah tinggi. Dari hasil data tersebut dapat disimpulkan pemanfaatan perpustakaan sekolah sebagai sarana belajar kelompok tergolong tinggi yaitu sebesar 12 atau 57,1%. Hal tersebut dapat ditunjukkan bahwa banyak siswa yang memiliki motivasi untuk belajar di perpustakaan dan mencari materi tambahan di perpustakaan selain itu juga siswa lebih suka mengerjakan tugas yang sumbernya di perpustakaan sekolah dan mendiskusikannya dengan teman secara kelompok. Misalnya melatih kemampuan siswa dalam mengamati masalah, mengarahkan siswa untuk mampu mengambil data dan menganalisnya secara kelompok, siswa mampu memberikan kesimpulan dari hasil pembahasan secara kelompok
Pemanfaatan perpustakaan yang baik dapat memberikan beberapa manfaat diantaranya sebagai sarana belajar dalam menambah pengetahuan yang bermuara pada peningkatan hasil belajar siswa. Pemahaman siswa terhadap materi pelajaran yang di berikan guru di kelas terkadang masih minim, sehingga dengan pemanfaatan perpustakaan sekolah yang baik di harapkan dapat menambah pengetahuan siswa terhadap materi pelajaran. Kesadaran akan pentingnya mencari dan menggali pengetahuan di perpustakaan perlu di galakkan terhadap setiap siswa dalam upaya meningkatkan hasil belajar siswa.


Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat pemanfaatan perpustakaan di SD Inpres Ajakkang Barat, kabupaten Barru pada umumnya termasuk dalam kategori tinggi, dikatakan tinggi karena mayoritas siswa dan guru di SD Inpres Ajakkang Barat, kabupaten Barru telah memahami tentang manfaat perpustakaan sekolah sebagai sumber belajar untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Dan pemanfaatan perpustakaan sekolah untuk mencari informasi dari buku-buku yang relevan  dan kegiatan siswa pada saat jam istirahat tergolong sangat tinggi, akan tetapi yang masih rendah adalah pemanfaatan perpustakaan untuk melatih belajar mandiri. 


Pemanfaatan perpustakaan sekolah oleh siswa di antaranya adalah mencari informasi dari buku referensi atau buku-buku yang relevan, melatih kemampuan belajar mandiri, sebagai sarana belajar kelompok dan untuk mengisi waktu luang atau pada saat jam kosong, berdasarkan hasil penelitian pemanfaatan perpustakaan sekolah untuk mencari informasi dari buku referensi atau buku-buku yang relevan, termasuk dalam kategori tinggi, hal ini dapat di tunjukan dengan adanya kelengkapan buku-buku yang ada di perpustakaan yang sudah memadai dan relevan sehingga banyak siswa yang mencari informasi guna menyelesaikan tugas yang berkaitan dengan materi pelajaran yang ada di sekolah sehingga dapat meningkatkan hasil belajar siswa.

PENUTUP

Berdasarkan hasil penelitian tentang tingkat pemanfaatan perpustakaan sekolah di SD Inpres Ajakkang Barat, kabupaten Barru Kabupaten Barru dapat disimpulkan bahwa pada umumnya siswa dan guru memberikan yang tinggi atau baik, dan bahkan banyak juga yang memberikan tanggapan bahwa tingkat pemanfaatan perpustakaan sekolah oleh siswa di antaranya adalah mencari informasi dari buku referensi atau buku-buku yang relevan, melatih kemampuan belajar mandiri, sebagai sarana belajar kelompok dan untuk mengisi waktu luang atau pada saat jam kosong, berdasarkan hasil penelitian pemanfaatan perpustakaan sekolah untuk mencari informasi dari buku referensi atau buku-buku yang relevan, termasuk dalam kategori tinggi, hal ini dapat di tunjukkan dengan adanya kelengkapan buku-buku yang ada di perpustakaan yang sudah memadai dan relevan sehingga banyak siswa yang mencari informasi guna menyelesaikan tugas yang berkaitan dengan materi pelajaran yang ada di sekolah sehingga dapat meningkatkan hasil belajar siswa.
 

Saran penulis, bahwa dalam rangka meningkatkan pemanfaatan perpustakaan di SD Inpres Ajakkang Barat, kabupaten Barru, maka perlu di perhatikan sarana dan prasarana perpustakaan, terutama koleksi buku yang ada, masih perlu penambahan, layanan perlu ditingkatkan, dan motivasi pemanfaatan perpustakaan terhadap siswa pelu digalakkan, peningkatan minat baca selalu diadakan.

DAFTAR PUSTAKA

Alimuddin. (2003).  Persepsi Pengguna Terhadap Pemanfaatan Koleksi di
               Perpustakaan Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional Propinsi
               Sulawesi Selatan. Skripsi Sarjana Fak. Isipol Unhas.

Arikunto. (2005). Metode Penelitian Kualitatif. Jakarta: Sagung Seto.

Bafadal, Ibrahim. (2009). Pengolahan Perpustakaan Sekolah, Jakarta: Bumi
               Aksara.

Djambia, Amir. (2003).  Tinngkat Pemanfaatan Koleksi di Perpustkaaan Suaka
               Peninggalan Sejarah dan Purbakala Sulawwesi Selatan dan Tenggara.
               Skripsi Sarjana Fakultas Isipol Unhas.

Soeatminah. (1992). Perpustakaan, kepustakwanan, dan pustakawan. Yogyakarta:
                 Kanisus.

Sugiono. (2009). Metode Penelitian Pendidikan: Pendekatan Kuantitatif,