FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MINAT BACASISWA DI PERPUSTAKAAN SD INPRES NO. 26 BARANG KABUPATEN BARRU




MASNIA
Nim. 022909471
Program Studi ilmu Perpustakaan Universitas Terbuka
Email:  masnianurdin86@gmail.com




ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi minat baca siswa di Perpustakaan SD Ipres No. 26 Barang, kabupaten Barru. Metode penelitian kualitatif deskriptif. Populasi penelitian yaitu semua siswa yang berkunjung ke perpustakaan dalam kurung waktu 1 tahun yaitu 467 orang siswa. Pemilihan sampel secara acak dengan menentukan 10%, maka sampelnya sebanyak 46 siswa. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah data primer, yakni teknik pengumpulan data melalui kuesioner, wawancara dan observasi secara langsung hal yang terjadi di lapangan. Data sekunder, yakni teknik pengumpulan data dengan mengumpulkan sumber-sumber informasi ilmiah yang berkaitan dengan materi penelitian berupa buku-buku, karya ilmiah, dan berbagai literatur lainnya sebagai bahan referensi penulis. Teknik analisis data adalah analisis data kualitatif dengan menggunakan tabel frekuensi dan persentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa1) Faktor-faktor yang mempengaruhi minat baca siswa di Perpustakaan SD Inpres no. 26 Barang, kabupaten Barru ada dua yaitu faktor pendorong seperti motivasi dalam diri siswa sendiri, motivasi keluarga, motivasi guru, koleksi yang menarik, ruang baca yang nyaman, lokasi perpustakaan yang strategis, dan pemberian hadiah, pada umumnya siswa menanggapi setuju. Dan nilai frekuensi atau porsentase yang paling tinggi adalah faktor motivasi dalam diri siswa yaitu sebanyak 18 Siswa atau 39,13%, dan faktor terendah adalah Faktor penghambat ruang baca yang nyaman yaitu sebanyak 2 siswa atau 4,35%. Faktor penghambat yaitu terbatasnya tenaga pengelola perpustakaan, kurangnya promosi perpustakaan, kurangnya motivasi guru, dan kurangnya waktu istirahat, pada umumnya siswa menanggapi setuju. Sedangkan faktor penghambat yang paling rendah tanggapannya adalah kurangnya waktu istirahat yaitu sebanyak 1 siswa atau 2,17%. 2) Upaya-upaya yang dilakukan oleh perpustakaan di SD Inpres no. 26 Barang, kabupaten Barru adalah 1) mengadakan jam wajib kunjung perpustakaan, 2) pelayanan pembaca dan peminjam dengan sistem cepat, 3) peningkatan koleksi yang lebih menarik dan terbaru serta sarana dan prasarana perpustakaan, 4) menjadikan ruang perpustakaan yang nyaman dan menarik layaknya tempat bermain anak-anak supaya siswa-siswa lebih betah di perpustakaan, 5) kolaborasi antara kepala sekolah, guru kelas dan pustakawan, serta 6) pengembangan minat baca dengan cara mengadakan berbagai kegiatan yang dipusatkan di perpustakaan sekolah seperti lomba lukis, jam wajib kunjung, dan penulisan resensi buku, dan rata-rata siswa menanggapi setuju, serta nilai frekuensi atau persentase yang paling tinggi adalah koleksi, sarana dan prasarana perpustakaan.

Kata Kunci: Perpustakaan sekolah,  Minat Baca


Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Minat Baca Siswa di Perpustakaan SD Inpres NO. 28 Barang Kabupaten Barru


PENDAHULUAN

Perpustakaan sebagai sumber informasi memegang peranan penting dalam pembangunan nasional dan merupakan sarana penunjang dalam pendidikan. Salah satu jenis perpustakaan adalah perpustakaan sekolah. Perpustakaan sekolah pada dasarnya mempunyai tugas untuk menghimpun atau mengadakan dan menyebarluaskan informasi kepada warga sekolah yang membutuhkan. Selain itu perpustakaan sekolah juga merupakan suatu unit kerja yang mengumpulkan karya-karya siswa sebagai perwujudan cipta, rasa dan karsa manusia.

Perpustakaan sebagai institusi informasi dan ilmu pengetahuan memiliki tugas dan peluang besar untuk berperan serta aktif dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa. Dengan koleksi bahan pustaka yang dikelola dan fasilitas yang tersedia, perpustakaan dapat mendorong masyarakat untuk meningkatkan akses informasi dalam rangka peningkatan kecerdasan religi, intelektual, kognisi, afeksi, dan kinetik mereka. Penulis sebagai intelektual, pendidik, orang yang kreatif, dan pengontrol telah menciptakan dan mengembangkan informasi, teori, dan pemikiran untuk meningkatkan minat informasi dan ilmu pengetahuan masyarakat pada umumnya dalam rangka menuju kesejahteraan umat manusia. Mereka telah menciptakan itu semua berdasarkan tanggung jawab moral kehidupan dan bukan sekedar kewajiban dan beban angka kredit maupun kepentingan materi lainnya. Dalam upaya peningkatan minat baca dan tulis perlu langkah sinergi yang melibatkan semua pihak terutama Departemen Pendidikan Nasional RI.

Dengan keberadaan perpustakaan sekolah di SD Inpres No. 26 Barang, kabupaten Barru merupakan salah satu sarana yang dapat menunjang peningkatan kualitas pendidikan, karena perpustakaan sekolah merupakan satu bagian penting dari sekolah secara keseluruhan. Khususnya bagi siswa SD Inpres No. 26 Barang, kabupaten Barru, perpustakaan menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari program sekolah, karena dari belajar di perpustakaan sekolah siswa dapat belajar mandiri dan mengembangkan ilmu pengetahuan. Disamping hal tersebut, perpustakaan sekolah memiliki arti yang penting bagi siswa karena juga sebagai sumber ilmu dan alternatif rujukan. Dengan membiasakan diri untuk berkunjung ke perpustakaan sekolah, siswa akan menjadi gemar membaca yang dapat menambah wawasan dan ilmu pengetahuan.

Membaca merupakan kebutuhan dan kegiatan sehari-hari setiap manusia, membaca juga sangat penting dalam kehidupan masyarakat yang semakin kompleks, setiap aspek kehidupan melibatkan kegiatan membaca sehingga kemampuan membaca merupakan tuntutan realitas kehidupan sehari-hari  manusia. Buku adalah gudang pengetahuan yang hanya dapat dimiliki oleh  seseorang apabila mempunyai pemahaman yang berarti pengetahuan bagi  kehidupannya. Berbagai judul buku dan berbagai koran diterbitkan setiap hari,  ledakan informasi menimbulkan tekanan pada setiap guru atau pendamping siswa untuk menyiapkan bacaan yang memuat informasi dan yang relevan untuk anak didiknya, walaupun tidak semua informasi perlu dibaca, tetapi jenis-jenis bacaan tertentu yang sesuai dengan kebutuhan dan kepentingan tentu perlu dibaca, membaca merupakan peranan terpenting dalam kehidupan sehari-hari.

Kegiatan membaca akan menjadi sebuah kebutuhan apabila kita selalu ingin mengetahui isi dari suatu bacaan. Sebanyak apapun bahan pustaka yang dimiliki perpustakaan, apabila minat baca siswa rendah maka bahan pustaka yang ada di perpustakaan tidak akan berguna. Dan sebaliknya apabila bahan pustaka yang dimiliki perpustakaan sedikit akan tetapi minat baca siswa tinggi maka bahan pustaka yang ada di perpustakaan akan sangat bermanfaat dan berguna. Sehingga manfaat dari perpustakaan itu sendiri tergantung dengan minat baca siswa. Maka dari itu agar perpustakaan sekolah dapat dimanfaatkan secara maksimal, minat baca siswa perlu ditingkatkan dan ditumbuh kembangkan dengan berbagai upaya baik dari lingkungan sekolah maupun dari lingkungan luar sekolah. 

Sutarno (2006:110) menyatakan sangat jelas sekali, bahwa minat tehadap bacaan tertentu merupakan adanya dorongan yang kuat, atau dorongan yang timbul dari dirinya, bahkan dapat dikatakan dorongan motivasi yang tinggi dari dirinya sendiri, walaupun pada hakikatnya tidak terlepas juga dorongan dari faktor-faktor yang mempengaruhi tingginya minat membaca seseorang. Tingginya minat membaca juga dapat dipengaruhi faktor-faktor yang bersifat langsung dan tidak langsung. Faktor yang bersifat langsung diantaranya adalah faktor dari orang tua (keluarga), guru atau pendidik, pengelola perpustakaan dan masyarakat sekitar (lingkungannya). Kemudian faktor yang bersifat tidak langsung seperti halnya sumber bacaan (penyedia), pemerintah dan swasta yang berminat dan peduli terhadap dunia pendidikan. 

Dari uraian di tersebut di atas, maka penulis mengajukan permasalahan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : (1) faktor-faktor apa yang mempengaruhi minat baca di Perpustakaan SD Inpres No. 26 Barang, kabupaten Barru; (2) Upaya-upaya apa yang dilakukan oleh perpustakaan untuk menumbuhkan minat baca siswa di SD Inpres no. 26 Barang, kabupaten Barru. Tujuan penelitian ini adalah (1) untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi minat baca di Perpustakaan SD Inpres No. 26 Barang, kabupaten Barru; (2) Untuk mengetahui upaya-upaya yang dilakukan oleh perpustakaan untuk menumbuhkan minat baca siswa di SD Inpres no. 26 Barang, kabupaten Barru.

METODE PENELITIAN

Dalam melakukan penelitian ini penulis menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif yang bertujuan untuk mengetahui gambaran tentang faktor-faktor yang mempengaruhi minat baca siswa di Perpustakaan SD Inpres Barang Kabupaten Barru. Populasi dalam penelitian ini adalah semua siswa yang datang memanfaatkan perpustakaan selama kurung waktu 1 tahun di Perpustakaan SD Inpres No. 26 Barang, kabupaten Barru sebanyak 467 orang siswa. Pemilihan sampel dilakukan dengan menggunakan metode random sampling (sampel acak). Jika jumlah populasinya lebih dari 100 orang, maka sampel diambil sebesar 10%, 15%, dan 20% atau lebih (Arikanto, 2008). Berdasarkan pendapat tersebut yang menjadi sampel penelitian ini adalah 10% dari jumlah populasi yang ada di SD Inpres Barang Kabupaten Barru yaitu sebanyak 46 orang. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah data primer, yakni teknik pengumpulan data melalui kuesioner, wawancara dan observasi secara langsung hal yang terjadi di lapangan. Data sekunder, yakni teknik pengumpulan data dengan mengumpulkan sumber-sumber informasi ilmiah yang berkaitan dengan materi penelitian berupa buku-buku, karya ilmiah, dan berbagai literatur lainnya sebagai bahan referensi penulis. Teknik analisis data adalah analisis data kualitatif dengan menggunakan tabel frekuensi dan persentase. Menurut Sugiono (2009:125) mengatakan bahwa tahapan analisis data kualitatif terdiri dari tahapan penjelajahan yakni memilih situasi sosial, serta wawancara kepada informan. 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi minat baca siswa di perpustakaan SD Inpres No. 26 Barang, kabupaten Barru meliputi faktor pendorong dan faktor penghambat. Faktor pendorong minat baca, antara lain: motivasi dalam diri siswa sendiri, motivasi keluarga, motivasi guru, koleksi yang menarik, ruang baca yang nyaman, lokasi perpustakaan yang strategis, dan pemberian hadiah. Faktor penghambat minat baca siswa, antara lain: terbatasnya tenaga pengelola perpustakaan, kurangnya promosi perpustakaan, kurangnya motivasi guru, dan kurangnya waktu istirahat. Sedangkan upaya yang dilakukan oleh perpustakaan SD Inpres No. 26 Barang, kabupaten Barru adalah sebagai berikut (1) mengadakan jam wajib kunjung perpustakaan, (2) pelayanan pembaca dan peminjam dengan sistem cepat, (3) peningkatan koleksi yang lebih menarik dan terbaru serta sarana dan prasarana perpustakaan, (4) menjadikan ruang perpustakaan yang nyaman dan menarik layaknya tempat bermain anak-anak supaya siswa-siswa lebih betah di perpustakaan, (5) kolaborasi antara kepala sekolah, guru kelas dan pustakawan, serta (6) pengembangan minat baca dengan cara mengadakan berbagai kegiatan yang dipusatkan di perpustakaan sekolah seperti lomba lukis, jam wajib kunjung, dan penulisan resensi buku.
Hasil penelitian memberikan gambaran bahwa rata-rata siswa memberikan tanggapan baik tentang faktor-faktor yang mempengaruhi minat baca siswa di Perpustakaan SD Inpres no. 26 Barang, kabupaten Barru berupa faktor pendorong seperti motivasi dalam diri siswa sendiri, motivasi keluarga, motivasi guru, koleksi yang menarik, ruang baca yang nyaman, lokasi perpustakaan yang strategis, dan pemberian hadiah. Dan faktor pendorong yang paling tinggi nilai frekuensi dan porsentasenya adalah motivasi dalam diri siswa yaitu sebanyak 18 Siswa atau 39,13%. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa faktor pendorong berupa motivasi diri siswa dalam menumbuhkan minat baca di Perpustakaan SD Inpres no. 26 Barang, kabupaten Barru yang paling besar pengaruhnya. Faktor internal adalah faktor motivasi dalam diri siswa seperti pembawaan, kebiasaan dan ekspresi diri. Minat membaca merupakan salah satu karakter yang harus dibentuk dalam diri siswa karena bagaimanapun kegiatan membaca merupakan bagian penting dalam belajar. 

Menurut Mudjito, kita dapat membedakan motivasi membaca kedalam dua golongan, yaitu motivasi internal dan motivasi eksternal. Yang dimaksud dengan motivasi internal adalah motivasi yang berasal dari dalam diri seseorang. Sedangkan eksternal adalah motivasi atau tenaga pendorong yang berasal dari luar seseorang. Motivasi internal diantaranya adalah: (1) Adanya kebutuhan yaitu karena adanya kebutuhan, maka seseorang didorong untuk membaca. Misalnya seorang anak ingin mengetahui isi cerita dari sebuah buku komik. (2) Adanya pengetahuan tentang kemajuannya sendiri yaitu seseorang mengetahui hasil-hasil atau prestasinya sendiri dari membaca, maka ia akan terdorong untuk membaca lebih banyak lagi. Misalnya anak yang telah membaca sebuah buku dan ia merasa mendapatkan sesuatu dari buku yang dibacanya, maka akan mendorong baginya untuk membaca lebih banyak lagi. (3) Adanya aspirasi atau cita-cita adalah anak yang telah remaja, cita-cita itu akan menjadi lebih jelas dan tegas, misalnya cita-cita menjadi dokter, insinyur, militer, dan lain-lain. 

Sedangkan faktor pendorong yang paling rendah adalah ruang baca yang nyaman.  Hal ini dapat dilihat dari hasil data frekuensi atau persentase sebanyak 2 siswa atau 4,35%. Dengan demikian bahwa ruang baca yang ada di Perpustakaan SD Inpres Barang masih kategori rendah. Ruang baca sangat mempengaruhi minat baca siswa, karena perpustakaan yang memiliki ruang baca yang tidak nyaman, maka siswa enggan datang untuk memanfaatkan perpustakaan. 

Faktor penghambat berupa terbatasnya tenaga pengelola perpustakaan, kurangnya promosi perpustakaan, kurangnya motivasi guru, dan kurangnya waktu istirahat, rata-rata siswa menanggapi setuju. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa faktor penghambat berupa tenaga pengelola perpustakaan, kurangnya promosi perpustakaan, kurangnya motivasi guru, dan kurangnya waktu istirahat sangat mempengaruhi minat baca siswa. Dan faktor penghambat yang paling tinggi nilainya adalah kurangnya promosi perpustakaan yaitu sebanyak 24 siswa atau 52,17%. Sedangkan faktor penghambat yang paling rendah tanggapannya adalah kurangnya waktu istirahat yaitu sebanyak 1 siswa atau 2,17%.
Promosi adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh organisasi yang bergerak dalam bidang usaha dan jasa (dalam hal ini perpustakaan) agar produk jasanya yang berupa sumber informasi dikenal atau diketahui oleh pemakai, sehingga pemakai mau memakai koleksi yang dimiliki oleh perpustakaan. Promosi merupakan suatu kegiatan yang dilakukan oleh organisasi yang bergerak dalam bidang usaha dan jasa (dalam hal ini perpustakaan) agar produk atau jasanya diketahui oleh para pengunjung perpustakaan sehingga mereka (pengunjung perpustakaan) terdorong untuk memanfaatkan fasilitas yang telah disediakan oleh perpustakaan sekolah. Bentuk promosi yang bias dilakukan ada 3 bentuk yaitu: membuat brosur tentang kegiatan yang ada di perpustakaan sekolah, menata ruang perpustakaan sekolah, dan sikap dan penampilan yang baik dalam memberikan layanan terhadap pemakai. Menurut Suroto (200:48), promosi memiliki empat tujuan, yaitu: (a) untuk menarik perhatian; (b) untuk menciptakan kesan; (c) untuk membangkitkan minat; dan (d) untuk memperoleh tanggapan. 

Upaya-upaya yang dilakukan oleh perpustakaan dalam menumbuhkan minat baca siswa di Perpustakaan SD Inpres no. 26 Barang, kabupaten Barru yaitu 1) mengadakan jam wajib kunjung perpustakaan, 2) pelayanan pembaca dan peminjam dengan sistem cepat, 3) peningkatan koleksi yang lebih menarik dan terbaru serta sarana dan prasarana perpustakaan, 4) menjadikan ruang perpustakaan yang nyaman dan menarik layaknya tempat bermain anak-anak supaya siswa-siswa lebih betah di perpustakaan, 5) kolaborasi antara kepala sekolah, guru kelas dan pustakawan, serta 6) pengembangan minat baca dengan cara mengadakan berbagai kegiatan yang dipusatkan di perpustakaan sekolah seperti lomba lukis, jam wajib kunjung, dan penulisan resensi buku, rata-rata siswa menanggapi setuju. Sedangkan yang paling tinggi nilai frekuensi atau persentasenya adalah peningkatan koleksi yang lebih menarik dan terbaru serta sarana dan prasarana perpustakaan yaitu sebanyak 20 siswa atau 43,48%. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa koleksi yang menarik dan terbaru serta sarana dan prasarana yang memadai di Perpustakaan SD Inpres no. 26 Barang, kabupaten Barru sangat mempengaruhi minat baca siswa.

Koleksi perpustakaan sekolah adalah sejumlah bahan atau sumber-sumber informasi, baik berupa buku atau pun bukan buku, yang dikelola untuk kepentingan proses belajar mengajar di sekolah yang bersangkutan. Koleksi perpustakaan harus menyesuaikan dengan kurikulum pendidikan yang berjalan pada saat itu sehingga perpustakaan dapat memberikan informasi yang menunjang belajar pemustaka sesuai dengan yang didapatkan pada pembelajaran di dalam kelas. Sarana dan prasarana merupakan hal yang diperlukan dalam menyelenggarakan perpustakaan. sarana dan prasarana tersebut harus memenuhi syarat baik kualitasnya maupun kuantitasnya. Dilihat dari sarana dan prasarana yang ada didalam perpustakaan SD Inpres no. 26 Barang, kabupaten Barru masih banyak kekurangan, hal ini terlihat dari kurangnya rak buku, tidak ada tempat penitipan tas, rak untuk majalah dan surat kabar belum ada. 

PENUTUP

Berdasarkan hasil dan pembahasan tersebut di atas, maka dapat disimpulkan bahwa: 1) Faktor-faktor yang mempengaruhi minat baca siswa di Perpustakaan SD Inpres no. 26 Barang, kabupaten Barru ada dua yaitu faktor pendorong seperti motivasi dalam diri siswa sendiri, motivasi keluarga, motivasi guru, koleksi yang menarik, ruang baca yang nyaman, lokasi perpustakaan yang strategis, dan pemberian hadiah, pada umumnya siswa menanggapi setuju. Dan nilai frekuensi atau persentase yang paling tinggi adalah faktor motivasi dalam diri siswa yaitu sebanyak 18 Siswa atau 39,13%, dan faktor terendah adalah Faktor penghambat ruang baca yang nyaman yaitu sebanyak 2 siswa atau 4,35%. Faktor penghambat yaitu terbatasnya tenaga pengelola perpustakaan, kurangnya promosi perpustakaan, kurangnya motivasi guru, dan kurangnya waktu istirahat, pada umumnya siswa menanggapi setuju. Sedangkan faktor penghambat yang paling rendah tanggapannya adalah kurangnya waktu istirahat yaitu sebanyak 1 siswa atau 2,17%. 2) Upaya-upaya yang dilakukan oleh perpustakaan di SD Inpres no. 26 Barang, kabupaten Barru adalah 1) mengadakan jam wajib kunjung perpustakaan, 2) pelayanan pembaca dan peminjam dengan sistem cepat, 3) peningkatan koleksi yang lebih menarik dan terbaru serta sarana dan prasarana perpustakaan, 4) menjadikan ruang perpustakaan yang nyaman dan menarik layaknya tempat bermain anak-anak supaya siswa-siswa lebih betah di perpustakaan, 5) kolaborasi antara kepala sekolah, guru kelas dan pustakawan, serta 6) pengembangan minat baca dengan cara mengadakan berbagai kegiatan yang dipusatkan di perpustakaan sekolah seperti lomba lukis, jam wajib kunjung, dan penulisan resensi buku, dan rata-rata siswa menanggapi setuju, serta nilai frekuensi atau persentase yang paling tinggi adalah koleksi, sarana dan prasarana perpustakaan.
Sesuai kesimpulan di atas, maka penulis member saran bahwa dalam rangka menumbuhkan minat baca siswa di perpustakaan SD Inpres no. 26 Barang, kabupaten Barru, maka faktor-faktor yang mempengaruhinya perlu diperhatikan, terutama faktor pendorong dan faktor penghambat yang kategorinya tinggi. Kemudian perlu melakukan berbagai upaya-upaya seperti koleksi, sarana dan prasarana yang ada sekarang perlu penambahan.

DAFTAR PUSTAKA

Bafadal, Ibrahim. (2009). Pengelolaan Perpustakaan Sekolah. Jakarta: Bumi  Aksara.

Suryabrata, Sumadi, (2011).  Metodologi Penelitian, Jakarta : Rajawali Press.

Sugiono, (2009). Metode Penelitian Pendidikan: Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif dan R&D, Bandung : Alfabeta.

Supriyoko, (2003).  Minat Baca dan Kualitas Bangsa. Pikiran.

Sumadi, (1987). Hubungan Minat Baca dan Minat Bahasa dengan Prestasi Membaca Pemahaman Siswa SMA. Skripsi tidak diterbitkan. Malang : Program Pascasarjana IKIP MALANG.

Supriyadi, (1985). Pengantar Pedoman Penyelenggaraan Perpustakaan Sekolah. Malang: IKIP MALANG.

Suroto. (2000). Media Pustakawan: Peranan Pustakawan dalam Upaya Memotivasi Siswa untuk Memamfaatkan Perpustakaan Sekolah. Jakarta: Deputi Pengkajian dan Pengembangan Informasi dan Komunikasi Badan Informasi dan Komunikasi Nasional.