Pilih Jadi Gelas atau Danau - Siapa yang belum pernah melihat gelas atau danau? Saya yakin sebagian besar dari Anda sudah pernah melihat keduanya. Bicara soal gelas dan danau, kali ini saya akan share seputar catatan inspirasi mengenai filosofi gelas atau danau. Semoga saja catatan motivasi kali ini bisa membangkitkan semangat Anda untuk menjadi pribadi yang lebih sukses lagi.

pilih-jadi-gelas-atau-danau


Suatu hari, ada seorang pemuda yang sedang duduk di pinggir sebuah danau yang indah, luas dan sangat menyejukkan mata. Siapapun yang duduk dan menikmati suasana danau tersebut akan mendapatkan sebuah ketenangan dan rasa syukur yang luar biasa. Tapi kali ini sang pemuda justru sedang  galau dan gundah gulana. Ia merasa bahwa hidupnya penuh dengan masalah-masalah yang berat dan seakan tanpa ada jalan ke luar.

Sembari merenungi nasibnya, datang seorang guru pemuda tersebut. Sang guru bertanya pada pemuda itu, “wahai anak muda, kenapa kau terlihat sedih dan gundah?”

Dengan lesu pemuda itu menjawab, “hidup ku seakan selalu dihujani masalah, selesai satu masalah muncul lagi masalah yang lain, apakah Tuhan itu tidak adil?”

Sang guru tahu bahwa pemuda tersebut butuh solusi, karena sang guru yang bijaksana lalu ia berkata, “mari mendekat kemari wahai anak muda”, setelah pemuda itu mendekat, sang guru mengisi sebuah gelas yang ia bawa dengan air danau. Setelah gelas terisi penuh lalu ia menuangkan 3 sendok garam (*Anda tahu apa yang selanjutnya terjadi?). Dengan penuh kewibawaan sang guru menyuruh si anak muda meminum air yang sudah dicampur dengan 3 sendok garam tersebut.

Sontak saja setelah meminum air tersebut si pemuda merasa ke-asinan dan bertanya pada guru.

Kenapa engkau menyuruhku meminum segelas air yang dicampur garam itu?

Tanpa menjawab pertanyaan itu, sang guru memasukkan tiga bungkus garam ke dalam danau dan menyuruh si pemuda minum air danau tersebut. Tanpa berbasa-basi si pemuda langsung meminum air danau yang dicampur satu bungkus garam tersebut.

Lalu guru bertanya “bagaimana rasa airnya?” Si pemuda tersenyum simpul kepada guru dan menunjukkan rasa segar setelah meminum air danau yang dicampur 3 bungkus garam itu. Sang guru mempersilakan pemuda itu duduk lalu memulai pembicaraan.

“Begitulah hidup.. engkau masih muda dan kau perlu banyak makan garam. Garam itu berguna untuk membentuk kedewasaanmu, dan tahukah kamu bahwa masalah bisa kita ibaratkan sebagai garam.

Ketika kamu meminum segelas air dengan 3 sendok garam rasanya begitu asin. Namun ketika kau meminum air danau yang dicampur 3 bungkus garam sekalipun kau tidak merasa keasinan. Begitu juga kehidupan ini.

Sang pemuda kini mendapat satu pelajaran dan ia tersenyum pada guru itu. Ia pun tidak gundah dan bersedih lagi.

Oke itu sedikit cerita untuk renungan kita, memang ceritanya sederhana tapi saya yakin Anda bisa menemukan hikmah dari cerita tersebut.

Seperti yang sudah dikatakan, garam bisa kita ibaratkan sebagai masalah dalam kehidupan ini. Dan kita diberi kebebasan oleh Tuhan. Kita mau pilih jadi gelas atau danau, jika kita memilih menjadi gelas maka ketika dicampur dengan 3 sendok garam saja rasanya sudah asin dan orang tidak suka meminum airnya. Akan tetapi ketika kita memilih menjadi danau, 3 bungkus garam pun seakan tidak berdampak pada kesegaran air kita.

Jadi mulai sekarang, jangan lagi deh kita berfokus pada banyaknya garam atau masalah dalam hidup ini. Tapi berfokus saja pada pilihan kita, mau menjadi gelas atau danau.

Baiklah rekan-rekan pembaca yang baik hatinya, mudah-mudahan renungan kali ini bisa bermanfaat bagi Anda. Semoga hari Anda tetap menyenangkan dan kita bisa lebih sukses di esok hari.