Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Hakikat Penciptaan Manusia, Antara Akal dan Nafsu

hakikat penciptaan manusia

 

Manusia merupakan makhluk yang diciptakan Allah dengan berbagai keindahan dan kelebihan. Allah telah menganugerahkan akal, pikiran, dan nafsu dalam satu jiwa. Berbeda dengan penciptaan malaikat dan binatang. Pada malaikat, Allah hanya menitipkan akal, hingga para malaikat terus berdzir memuja Nya sepanjang waktu. Sementara binatang hanya dititipkan nafsu, sehingga mereka hanya tahu makan, dan tidur sahaja. Dan satu-satunya makhluk yang Allah anugerahkan kombinasi keduanya hanyalah manusia, yang jika keduanya bisa digunakan dengan baik, maka kedudukannya bisa melebihi malaikat, dan jika tidak bisa, maka kedudukannya bahkan jauh lebih hina dibandingkan binatang. Na'udzubillah. 

Hal ini tentu bukan lagi menjadi rahasia kita sebagai manusia kan? Sebab dalam melakukan apapun, keduanya selalu melekat dan berusaha mempengaruhi kita, hingga tatkala kita berhasil, maka akal akan menang, ia akan membawamu kepada kebaikan-kebaikan, sementara jika nafsu yang menang? Wallahua'lam, sebab kebanyakan, nafsu selalu mengarah kepada keburukan. Tak heran jika dari dulu kita sudah dianjurkan untuk terus melawan hawa nafsu, karena memang apabila kita tidak bisa mengendalikannya, maka kacaulah segalanya. 

Salah satu cara agar kita bisa meredam nafsu adalah dengan mengingat hakikat penciptaan kita ke dunia. Allah tidak akan pernah mungkin mengutus ciptaan Nya ke bumi untuk hal yang sia-sia, termasuk manusia. Ia kan? Maka, hal ini telah dijelaskan oleh Allah di dalam al-Quran, yang terdapat di dalam QS. al-Dzariyat ayat 56, yang artinya, 'dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan untuk menyembah Ku'. 

Dengan terus mengingat hakikat penciptaan, kita akan lebih berhati-hati dalam bertindak. Jika kita terus menerus mengikuti hawa nafsu, lantas apa bedanya kita dengan binatang yang hidupnya memang untuk menuruti hawa nafsunya? Mulai sekarang, cobalah untuk lebih memikirkan berbagai hal dengan banyak pertimbangan, sebab hanya dengan menimbang, maka kamu akan tahu, dimana letak benar dan salah.

Berhenti untuk terus mengikuti nafsu dengan mengesampingkan akal, karena jika perlahan-lahan kamu melakukannya, maka nafsu akan mencoba untuk mendominasi hingga perlahan namun pasti, nafsu akan terus menguasai dirimu. Tentu, tidak ada satupun yang ingin hal ini terjadi, namun jika tak ada usaha yang berarti, maka ini bisa saja terjadi. 

Sampai detik ini, mana yang lebih kita kedepankan, akalkah atau malah nafsu? Rasulullah telah mencontohkan kepada kita bagaimana seharusnya menjadi seorang muslim yang baik, yakni dengan terus berbuat sesuai dengan apa yang disyariatkan dalam Islam, bukan mengikuti maunya saja. Apapun yang disampaikan dan dilakukan oleh Rasulullah merupakan suri tauladan terbaik, hal ini karena tidaklah beliau berkata dan berprilaku selain yang telah diwahyukan kepadanya. 

Sebagai pengikutnya, kita meski menyadari, bahwa mengikuti setiap ungkapan dan perilakukanya adalah sesuatu yang wajib untuk ditaati. Ia kan?  Yuk, mari kita terus menyadari hakikat akan penciptaan kita ke bumi ini, untuk apa sebenarnya kita diciptakan Allah? Apakah hanya utnuk menikmati dunia ini dan seisinya yang penuh tipu daya, atau ada hal yang lain? Mulailah terus mengingat hakikat penciptaan, maka kamu akan terus berjalan di bumi Nya dengan damai dna berada di jalur yang ditetapkan Nya. 

Tak ada satupun yang luput dari pengawasan Nya, maka dalam bertindak, ikutilah yang telah ditetapkan Nya. 

Demikian artikel super sederhaa tentang hakikat penciptaan, akal, dan hawa nafsu. Sudah wkatunya kita berubah, mengubah pola hidup yang salah menuju yang benar, yang jauh kenjadi dekat. Semoga Allah merahmati kita.


Ilmu Hadis
Ilmu Hadis Ilmu hadis merupakan salah satu jurusan yang mulai diminati oleh banyak calon Mahasiswa.

Posting Komentar untuk "Hakikat Penciptaan Manusia, Antara Akal dan Nafsu"