Pendapat Para Ahli Tentang Membaca

Pendapat Para Ahli Tentang Membaca


Pendapat Para Ahli Tentang Membaca - I Dewa Gde Alit Udayana mengemukakan bahwa kegemaran membaca pada anak-anak harus dikembangkan melalui orang tua atau guru. Orang tua dan guru diminta untuk memberikan contoh membaca. Bacaan anak hendaknya memiliki kualitas yang baik dan harganya terjangkau. Ternyata membaca ada berbagai tingkatan dan jenis. Hanya perpustakaanlah yang mampu menyediakan bacaan banyak dan berkualitas.

Eduard Kimman, seorang peneliti barat mengelompokkan minat baca orang Indonesia menjadi empat tingkat rendah hingga tingkat tinggi, yaitu:
  1. Golongan yang membaca sekali-kali.
  2. Golongan yang senang dengan cerita bergambar.
  3. Golongan yang membaca koran atau majalah karena hanya ingin mengetahui informasi tertentu, misalnya mencari lowongan pekerjaan, iklan, dan berita ringan-ringan.
  4. Golongan yang membaca buku, untuk menimba ilmu yang terkandung di dalamnya.
Mantan Presiden Soeharto pernah mengatakan di Kongres IKAPI ke-25 di Istana Negara bahwa kebiasaan membaca harus dipupuk sebagai kebutuhan hidup kita sehingga mendarah daging, sekaligus merupakan kebutuhan sehari-hari seperti makan dan minum.

Pater Drust S. J mengatakan bahwa kebiasaan membaca orang tua akan menurun kepada anak-anaknya. Sayangnya masih banyak orang tua yang tidak membaca, apalagi di desa-desa.

Perpustakaan mendidik orang untuk bisa mandiri. Hasilnya terlihat pada tokoh ADam Malik, yang sempat menduduki kursi Wakil Presiden. Walupun pendidikan formalnya rendah, tetapi ia terkenal sebagai kutu buku.

Belajar di sekolah dibatasi oleh waktu, sedangkan belajar di perpustakaan tidak. Kita bisa belajar sepanjang masa. Untuk menumbuhkan semangat sepanjang patriotisme perlu membaca buku sejarah.

0 Response to "Pendapat Para Ahli Tentang Membaca"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel