Balada Pernikahan Generasi Millennials

Buat kamu yang bujang pasti pernah membayangkan pernyataan seperti ini

“Saya terima nikahnya….”

Atau membayangkan dialog seperti ini

“Bersediakah saudari mengasihi dan menghormati suami saudara sepanjang hidup?”

“Ya, saya bersedia.”

Yup betul sekali. Itu adalah kutipan momen sakral pernikahan!

Menikah adalah impian hampir semua orang. Namun mewujudkan pernikahan itu ga semudah memimpikannya.  Millennials punya persepi berbeda soal pernikahan dibandingkan generasi-generasi pendahulunya.

Balada Pernikahan Generasi Millennials

Perbedaan utamanya adalah Millennials lebih menginginkan pernikahan yang sederhana aja! Sedangkan bokap-nyokap pengen yang super rame dihadiri nggak cuma keluarga kerabat tapi juga rekanannya. Semua dalam balutan tradisi.

Berdasarkan riset Tirto.id dalam artikel berjudul “kompromi pernikahan ala generasi milenial” millenials menginginkan pernikahan sederhana yang dihadiri keluar inti, kerabat dekat, sohib-sohib, dan rekanan kerja.

Owner Your Dream Wedding, Rena Tabitha Buntario, mengemukakan, generasi milenial semakin menginginkan pesta pernikahan yang praktis, berkonsep cuek, dengan jumlah tamu undangan terbatas 100-200 orang saja.
”Milenial biasanya cenderung menginginkan pesta pernikahan simpel. Identik dengan biaya lebih murah, tetapi tetap seru dan berkesan,” kata Rena seperti dikutip dari artikel berjudul “Industri Pesta Nikah dalam Tren Milenial” yang terbit di harian Kompas, Minggu 14 Januari 2018.
Konsep pesta pernikahan serba praktis, ujar Rena, umumnya dilakukan dengan memilih lokasi (venue) pesta di luar ruangan, seperti taman, pantai, hutan, atau di chapel, yakni semacam bangunan yang artistik. Konsep pernikahan di hotel tak lagi identik dengan pernak-pernik dekor yang heboh atau mewah. Lokasi alam atau tempat yang unik bisa menjadi pengganti dekorasi.

Kenapa sih Millennials maunya simple aja? Kok mau simple aja?

Banyak alasannya. Mempersiapkan pernikahan itu tidak sesederhana menentukan tempat kencan. Banyak yang harus dipertimbangan dan dibicarakan soal 5W+1H (what, who, where, when, why + how). Bicarain tata cara, lokasi, tanggal, sampai urusan budget dan siapa yg ngongkosin.

Belum lagi, pasti ada aja beda pendapat antara kamu, Millennials dengan bokap nyokap bahkan calon mertua kamu. Walaupun nggak semua orangtua itu begitu ya, tapi most of them kukuh beranggapan married is once in a lifetime dan sarana aktualisasi diri mereka jadi ya harus hebring!
Baca Juga : Bahas Bahasa Generasi Millennials
Banyak Millennials yang sudah married cerita, saat hari H menikah, mereka harus berdiri dan salaman selama dua jam sama orang2 yg ga lu kenal. Eh tahu-tahunya itu rekanan kerja bokap/nyokap. Mereka nggak pengin di hari bahagia mereka malah diisi hal-hal ngebetein kayak gitu.

Tetapi alasan terkuat millennials memilih pernikahan sederhana adalah faktor income generasi millennials yang belum affordable untuk menyelenggarakan pesta gede. Dengan asumsi baru bekerja 0-8 tahun, dengan asumsi gaji rata2 Rp 3 juta-Rp 8 juta sebulan, cukup berat rasanya untuk menggelar pesta gede-gedean.

Memang tidak ada takaran standar, berapa budget yang harus dikeluarkan untuk menggelar pesta pernikahan. Bisa ekstrem sangat mahal tetapi bisa juga biasa-biasa saja, itu semua tergantung pesta seperti apa yang akan digelar.

Serba-serbi pernikahan Millennials di Indonesia

Peran Instagram

Perkembangan konsep pesta pernikahan juga mendorong industri ikutannya. Dalam artikel “Industri Pesta Nikah dalam Tren Milenial” yang terbit di harian Kompas, Minggu 14 Januari 2018, CEO BrideStory Kevin Mintaraga mengatakan, bisnis pernak-pernik kebutuhan pernikahan di Indonesia sangat potensial. Beberapa tahun terakhir, bisnis ini berkembang pesat tidak hanya di Jakarta, tetapi juga kota-kota besar lain.

BrideStory yang merupakan laman pemasaran kebutuhan pernikahan itu, kini memiliki lebih dari 18.000 vendor pernikahan. Vendor tersebut tersebar, antara lain, di Jakarta, Surabaya, dan Bali, bahkan di Singapura, Filipina, Malaysia, dan Amerika Serikat.

Sebetulnya, ada banyak vendor kebutuhan pernikahan, tetapi publik tidak tahu informasi keberadaan mereka. Belum terlalu banyak platform yang memberikan data lengkap vendor. Calon pengantin bergantung pada informasi dari kerabat atau teman yang sudah menikah.

Namun, hal itu kini berubah. Kehadiran media sosial, seperti Instagram, memudahkan calon pengantin mencari informasi mengenai vendor.
”Dampak Instagram bagi industri pesta pernikahan cukup besar karena Instagram memfasilitasi konten gambar dan video. Ini adalah platform media sosial yang sangat cocok dengan industri pesta pernikahan,” ujar Kevin.
Untuk urusan foto prewedding, misalnya, banyak calon pengantin mengambil inspirasi dari media sosial. Beberapa waktu lalu, artis Marcel Chandrawinata memilih Nusa Tenggara Timur untuk lokasi pemotretan foto prewedding. Konsep seperti ini kemudian diikuti beberapa calon pengantin lain.

Duh mau wujudin dream wedding, tapi males ribet? mau kawin saja kok repot amat ya?
Solusinya adalah menggelar acara pernikahan yang merupakan kompromi dari berbagai keadaan. Kompromi dari keinginan kedua mempelai, bokap-nyokap, mertua, budget kamu, dan perencanaan kehidupanmu paska menikah.
Perencanaan kehidupan paskah menikah juga tak kalah penting. Sebab kehidupan yang sesungguhnya itu dimulai saat pasti itu berakhir. Paska pesta usai, hitung amplop yang masuk lalu pikirkan betul-betul bagaimana mengelola keuangan ke depan. Mau tinggal dimana? Berapa ongkosnya? Bagaimana pekerjaanmu dan lain-lain?

Good luck ya guys! Happy wedding!

0 Response to "Balada Pernikahan Generasi Millennials"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel